Bab 1 (03)
Dengan cepat Kak Rieke Segera diantar ke Rumah Sakit terdekat setelah mengalami Mimisan yang hebat . Mungkin ini Mimisan yang kesekian Di hari ini . Mukanya yang Hampir seputih dinding kelas ku , mengambang Tanpa ekspresi pasti .
Setelah Kak Rieke Di roentgen , kami ( Aku , Kak Rieke , Ibu ) berkonsultasi dengan Sang Dokter , ya... Ini Dokter Pertama yang Kak Rieke kunjungi .
"Rieke Andyaksa .... " perawat memanggil Nama kakak ku .
Kaki kami , Tanpa percaya pada dirinya , melangkah menuju ruang dokternya yang sudah bisa Kutebak .... Bau alcohol Segera menusuk lorong hidungku .
***
Setelah berbincang-bincang dengan Dokter yang bisa ku bilang sekitar umur 40 - 50 tahun yang ternyata juga cukup Ramah . Kakak ku diberi tahu Bahwa itu bukan suatu penyakit yang mematikan , melainkan hanyalah masalah biasa saja , tapi itu menurut kakak ku .
Kata Sang Dokter , pembuluh darah Di sekitar hidung Kak Rieke memang sangat mudah untuk pecah , karena apa Aku tak tahu .
Saat sedang Di perjalanan pulang menuju ke Rumah , Aku sempat bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Dokter Tadi . Tapi anehnya , Mengapa Kak Rieke tenang - tenang saja . Baiklah , sepertinya Ia melihat gelagatku . Dan ia memberitahukan Bahwa ia baik - baik saja .
Sejak bersamanya , ku diajarkan Olehnya berbagai bahasa isyarat Dan beribu artinya .
***
Sesampainya Di Rumah , Kakakku menulis sesuatu , tepatnya sebuah renungan kecil . Kegiatan itu memang selalu ia lakukan setiap harinya . Aku sedang duduk disebelahnya dengan sebuah Buku tebal Di Tanganku . Jadi , Aku bisa melihat tulisan apa yang Akan ia tulis . Ketika ku lihat , Ada sebuah renungan yang berisi
"Semangat bagaikan sebuah lentera Di kegelapan" .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar