Adakah yang pernah mendengar lagu ini ?
Mungkin , sebagian dari ANDA pernah mendengarnya
Berani !!!
Hadapi semuanya !!!
Maju ! Raih mimpi tertinggimu !!!
BRAVE
Josh Groban
Wake up, wake up, the sun cannot wait for long.
Reach out, reach out before it fades away.
You will find the warmth when you surrender.
Smile into the fear and let it play.
Chorus:
You wanna run away, run away and you say that it can’t be so.
You wanna look away, look away but you stay cause’ it’s all so close.
When you stand up and hold out your hand.
In the face of what I don’t understand.
My reason to be brave.
Hold on, hold on, so strong, time just carries on.
And all that you thought was wrong is pure again.
You can’t hide forever from the thunder.
Look into the storm and feel the rain.
Chorus:
You wanna run away, run away and you say that it can’t be so.
You wanna look away, look away but you stay cause’ it’s all so close.
When you stand uṗ and hold out your hand.
In the face of what I don’t understand.
My reason to be brave.
O-oh-oh-oh-oh
O-oh-oh-oh-oh
O-oh-oh-oh-oh
Go on, go on…
Chorus:
You wanna run away, run away and you say that it can’t be so.
You wanna look away, look away but you stay cause’ it’s all so close.
Di sebuah acara , disekolah saya . Ada sebuah acara renungan untuk menghadapi Ujian Nasional . Di acara itu dihadirkan seorang motivator , bapak Aris Ahmad Jaya
Di acara itu kami diperlihatkan sebuah video . Video apakah itu ?
Suatu hari , seorang pengemis buta sedang duduk bersila mengharapkan lemparan uang dari pengunjung yang berlalu lalang . Disebelah pengemis itu ada karton yang bertuliskan " Saya buta , kasihanilah saya " . Namun , apa yang terjadi ? Para pengunjung hanya melirik tanpa memberikan respon apapun .
Hingga ada seorang perempuan melihat pengemis buta itu . Dan ia menghampiri pak pengemis itu , bukan ... Bukan untuk memberikan uang , ia mengambil karton itu dan mengubah tulisannya .
Setelah perempuan itu pergi , pengemis buta itu layaknya kebanjiran uang .
Mungkin pengemis itu tak tahu apa yang ditulis oleh Si Perempuan .
Lalu apa yang ditulisnya ?
Perempuan itu menulis ... "Its a beautiful day , and I can't see it "
Dari video ini , hikmah yang bisa kita petik adalah ...
" Berpikirlah positive , janganlah merendahkan diri kita ! Janganlah pandang kekurangan kita sebagai penghalang untuk hidup ! "
Jika Anda bertanya, ”Siapa dia?”Jawabnya: Dia gadis cantik, muda, energik dan mempesona. Lahir dan besar di tengah keluarga Kristen, di Olympia, Washington, Amerika Serikat. Beberapa hari sebelum kematiannya, sebuah koran harian di Inggris memajang fotonya yang berjilbab di kolom head line; ketika pertengahan Februari 2003, dia dan pegiat kemanusiaan anti-penjajahan berdemonstrasi di Tepi Barat, lalu di jalur Gaza Palestina, menentang pemugaran paksa rumah-rumah penduduk Palestina oleh militer Israel.
Aktivis-aktivis gereja berbangga karena Rachel lahir sebagai Kristiani yang konsisten berjuang sejak Olympia, Rusia, hingga Palestina. Orang-orang Yahudi menjadikannya sebagai penyambung lidah mereka, bahwa mereka tak setuju dengan pendirian rezim Zionis, Israel. Kaum Muslim, terutama warga Tepi Barat, Palestina, menegaskan bahwa Rachel Corrie belajar bahasa Arab, belajar membaca al-Quran sebelum dilindas Buldozer Israel dan mempersembahkan jiwanya untuk tegaknya keadilan.
Lazimnya, seorang anak, apalagi perempuan, mendapat warna orang tua dalam memilih ”dunianya.” Berbeda dengan Rachel Corrie, justru pengaruhnya teramat besar bagi kedua orang tua, saudara, serta kawan-kawannya. Rachel Corrie telah mencipta ”atmosfer keluarga” dengan nafas cinta kemanusiaan. Semula, keluarga, terutama mama Rachel menghendakinya urungkan niat berangkat ke Palestina. Tapi, Rachel menjawab singkat, ”Ma, telah kukemasi barang-barang yang kubutuhkan di sana (Palestina).” Sekarang seluruh keluarga Rachel menjadi penggiat lingkungan-hijau yang anti-fasis, anti-penjajahan, dan anti-rasisme.
Aktivis ISM berusia 23 tahun
Tak berhenti sampai di situ. Setelah kematiannya, pengaruh Rachel semakin kuat. Sekuat cita-citanya, Rachel menggurat pena. Tulisannya menjadi inti api yang memantik lentera-lentera di berbagai penjuru dunia untuk memberi tahu; ada cinta Tuhan di setiap jiwa manusia. ”Inilah titik temu setiap insan. Maka dengan cinta-Nya, gelarlah permadani cinta untuk menari seirama gendang cinta,” ujar Rachel. Naskah catatan harian Rachel Corrie dipentaskan di berbagai Negara; Inggris, Jerman, Italia, Amerika Serikat dan lainnya. Ini bukti bahwa Buldozer Caterpilar D-9 Israel yang mengupas kulit kepala dan meremukkan tulang punggung Rachel tak mampu membungkam suara keadilan yang diujar gadis Olympia itu. Rachel tetap hidup, terutama di sanubari para pecinta keadilan, kedamaian dan kebenaran.
Rachel, 23 tahun, adalah mahasiswi Evergreen State College. Meski bukan muslim, hatinya tersentuh penderitaan warga Palestina. Gadis itu pun cuti dari kuliah bergabung dalam solidaritas kemanudiaan yang dilakukan Gerakan Solidaritas Internasional (ISM). Semangat yang meletup-letup itu menerbangkan dia ke Jalur Gaza, Palestina. Bahkan, membuatnya dia tergeletak di tanah yang panas. Badannya remuk dilindas buldozer Israel. Dia adalah tameng hidup yang berjuang melindungi pemukiman Palestina di Gaza, Palestina, 16 Maret 2003. Dia bukan PLO. Bukan pula Hamas. Tapi, Israel tak peduli.”Inilah titik temu setiap insan. Maka dengan cinta-Nya, gelarlah permadani cinta untuk menari seirama gendang cinta,” ~Rachel Corrie
Rachel menegaskan jati diri sebagai penulis dan pelukis. Ada ”warna cerah” dalam tulisannya. Ada haru yang ”gagah” di bait-bait essaynya. Ada canda di gambar-gambarnya. Di puisinya, ada kata yang menari, lalu mencambuk, seperti petir melecut mengakhiri mimpi panjang para pengantuk. Kemudian, ada mata menitikkan bulir-bulir bening saat membaca catatan-catatannya.
"Bila kata terujar mulutku tak berarti, biarkan ia mengambang sesaat di udara. Kan kujadikan itu kata-kata canda menghibur hingga kelak kucipta kalimat bermakna mengitarinya. Kumau terbang melayang untuk berkibar…. Beri aku jedah waktu, jangan komentari… Biarkanku menari, mengitari kelopak bunga lily. Kemudian melesat bagai air mancur, terbang menyertai kata-kataku yang tak berarti itu." Kalimat-kalimat ini adalah petikan salah satu catatannya. Kuat dan inspiratif. Seperti penegasannya, ”Beri aku jedah waktu, jangan komentari…” betapa dia sangat menghargai proses menjadi manusia. Dia yakin, tak ada yang sia-sia dari setiap imajinasi yang terujar merdeka.
MeganDodds(RachelCorrie). MY NAME ISRachel Corrie produksi Royal Court.Diedit danDisutradaraioleh AlanRickman.Fotooleh StephenCummiskey.
Imajinasi Merdeka. Ia adalah racikan rasio dan rasa. Hasilnya adalah kekuatan tak tertakar. Ia sublim bersama pemiliknya sebagai energi hidup dan kehidupan. Saat menjelma sebagai tulisan, ia mencabar setiap pembaca waras. Ketika mewujud dalam perilaku, imajinasi merdeka adalah “pijar matahari” membakar setiap sudut gelap penghambat kemanusiaan.
Rachel Corrie, mengabadikan cita-cita cinta dan kemanusiaannya melalui catatan-catatan hariannya. Semua tulisan dan gambarnya ”berbicara” lugas dan berenergi. Dia beritahu dunia, bagaimana cara menjadi manusia. Dengan akal sehat, lalu kata yang waras, tulisan yang hidup, tindakan yang benar, semua telah dilakukan Rachel, di Palestina.
Rachel Corrie. Sejak Olympia Movement for Justice and Peace (OMJP), Olympians for Peace in the Middle East (OPME), Students Educating Students about the Middle East (SESAME), Olympia Fellowship of Reconciliation (FOR) hingga International Solidarity Movement (ISM) disuplai energi kemanusiaan olehnya untuk meneriakkan kata “Merdeka!”Karena penjajahan yang diprakarsai negaranya (AS), Inggris dan Negara-negara Eropa masih berlangsung di hampir setiap sudut bumi ini.
Dengan pilihan merdeka, Rachel Corrie pergi ke Palestina. Rachel mempelajari isu tak masuk akal Palestina yang berhembus ke telinga dunia dengan kata “konflik” Palestina-Israel. Akhirnya dia dapati kenyataan bahwa Israel menjajah Palestina sejak lebih setengah abad lampau.
“Rachel, untuk pergi ke Palestina, kewajibankah? Tak seorangpun menyalahkanmu untuk mengurungkan niat itu,” ujar Mama Rachel. Rachel menjawab pasti, “Barang-barang sudah kukemas. Rasa takut itu manusiawi. Tapi kupikir, melakukannya tak mustahil. Harus kucoba, Mam.” Seatraktif apapun bujukan keluarganya, niat Rachel tak tergoyahkan. Tekad telah bulat, “Goodbye Olympia…”
Januari 2003. Rachel berangkat ke Israel untuk transit ke Tepi Barat. Setibanya di tanah para pengungsi itu, dia langsung bergabung bersama insan internasionalis (dari Inggris, Jerman, Itali dll) di International Solidarity Movement (ISM); wadah para pegiat kemanusiaan anti penjajahan. Pergerakan ini hanya memiliki dua syarat partisipasi: Pertama, pegiatnya yakin bahwa bangsa Palestina berhak merdeka berdasarkan hukum internasional dan resolusi PBB. Kedua, pegiatnya hanya menggunakan cara tanpa kekerasan untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina.
Ketika tiba di Rafah, Rachel saksikan tank, bulldozer, menara-menara sniper dan pos-pos penggeledahan Israel bertengger di antara puing-puing bekas pemukiman penduduk Gaza. Tembok baja raksasa dibangun di reruntuhan dekat perbatasan Mesir. Matanya menyapu sekeliling; tampak orang-orang Palestina bertahan, meski penindasan terus berlangsung. Wajah-wajah lusuh itu menjalani hidup serba kekurangan, menderita dan menunggu giliran direnggut maut. Itulah kisah jejakan pertama Rachel di bumi Palestina, seperti yang dikisahkan Craig Corrie, Mama Rachel Corrie.
Rachel abstraksikan bahaya di daratan gersang itu. Debam-debam ledakan nyaris tak berjedah diselingi suara peluru-peluru yang dimuntahkan. Sesekali jerit ketakutan penduduk samar terdengar. “Bisakah kau dengar itu…? Bisakah kau dengar itu…?” ujar Rachel terbata-bata saat pertama kali menelepon mamanya dari rumah seorang Palestina tempat dia tinggal.
Di Rafah, Rachel dan penggiat kemanusiaan lainnya menjadi benteng hidup, berdiri mengelilingi pekerja air kota Palestina yang menggali sumur. Dia hadang moncong laras panjang sniper-sniper militer Israel yang berada di menara benteng. Desir angin panas membahanakan deru misil-misil, tak hanya di Palestina, tapi ke seantero jagad.
Rachel dan rekan-rekan terus berdiri mengelilingi sumur-sumur yang sedang digali para pekerja hingga lewat tengah malam. Demi setetes air agar basahi tenggorokan pengungsi Palestina yang terkurung sejak lama di bumi Gaza. Hanya itu satu-satunya cara, setelah kebun zaitun penduduk Palestina dilindas buldoser-buldoser tentara IDF (tentara pertahanan Israel), setelah tentara-tentara Israel menimbun sumur-sumur dengan puing-puing rumah penduduk.
Rachel mengasuh bocah yatim massal Palestina dalam naungan Children’s Parliament. Merekalah yang memantapkan kedewasaan Rachel. Melalui mereka, Rachel bisa berbahasa Arab. Melalui Rachel mereka berkenalan dengan bahasa Inggris.
Rachel berdemonstrasi menentang militer AS yang meluluhlantak Irak pada 15 Februari 2003.
Meski berada dalam situasi gawat di Rafah, Rachel dan kawan-kawan sempat berdemonstrasi menentang militer AS yang meluluhlantak Irak pada 15 Februari 2003. “Ini salah satu tragedi terbesar dalam sejarah,” tutur Rachel.
Kampung halaman: Olympia atau Gaza? Di mata Rachel sama pentingnya. Rachel menjadi tambang yang menyimpul komitmen persaudaraan Gaza-Olympia. Wanita, anak-anak bergabung dalam pekan raya persaudaraan prakarsa Rachel itu.
Rachel menghadang tentara IDF yang hobi meluluhlantak pemukiman penduduk Palestina terutama Gaza. Rachel sengaja menghuni rumah penduduk yang menjadi incaran buldoser-buldoser Zionis-Israel. Rachel sadar, hak hidup merdeka milik semua bangsa, termasuk bangsa Palestina. Ya, Rachel tahu, hukum internasional harusnya melindungi ribuan orang di Rafah, Jalur Gaza. Tak ada hak siapapun untuk memusnahkan bangsa lain, apapun dalihnya, termasuk dalih pendirian negara ilegal Israel dan perluasan wilayahnya oleh IDF dengan membasmi penduduk di daratan berbatasan Mesir itu.
16 Maret 2003. Bersama tujuh pejuang internasional kemanusiaan dari Amerika dan Inggris, Rachel rela menjadi benteng hidup agar sisa rumah-rumah warga Palestina selamat dari serudukan buldoser Caterpillar D-9R milik tentara Israel. Rachel dan aktivis ISM lainnya yakin, bangsa Palestina berhak hidup aman di rumah mereka, di sekolah bahkan di dalam bis. Rachel berprinsip; penjajahan Israel atas bangsa Palestina harus berakhir secepatnya. Pembantaian tak pernah dilakukan orang-orang beradab, apalagi dengan dalih perluasan wilayah. “Mungkin aksi damai efektif sebagai solusi hingga terhenti pembantaian orang-orang Palestina. Sebagaimana penduduk Amerika dan seluruh dunia bisa hidup merdeka, demikian Palestina,” tutur Rachel.
16 Maret 2003. Dua bulldoser dan tank-tank Israel melaju kencang di jalanan Hi Salam, Rafah, Jalur Gaza, perbatasan Mesir menuju rumah-rumah penduduk Palestina. Satu buldoser dikendarai operator, dipandu seorang tentara yang berhenti tepat di depan rumah Nasrallah, salah satu keluarga di Rafah. Sudah beberapa hari Rachel tinggal di dalamnya. Bukan sekedar menumpang tidur, tapi Rachel sengaja menghendaki tentara IDF mengurungkan niat membongkar rumah itu karena keberadaannya. Juga, Rachel menegaskan tekadnya untuk bersama warga Palestina memperjuangkan kemerdekaan. Kesan seram ini dipotret Rachel melalui e-mail yang dikirim kepada Mamanya: Dua kamar depan rumah mereka tak dapat digunakan. Dinding-dindingnya hancur ditembus peluru Israel. Seluruh anggota keluarga; tiga anak dan dua pasang suami istri tidur di ruang tengah. Aku tidur di lantai bersama anak perempuannya, Iman dalam satu selimut.
Corrie berhadapan dengan buldoser
Sekitar jam 5 sore, buldoser meraung-raung meminta tumbal. Saat melintas, rantai roda baja itu menyemburkan onggokan tanah kering hingga menimpuk aktivis-aktivis yang menjadi benteng hidup rumah warga Gaza itu. Seorang aktivis Amerika terlempar berguling-guling sebelum akhirnya tersangkut di kawat berduri dan seorang aktivis Inggris terjepit dinding. Buldoser D9R Israel siap melindas rumah itu, Rachel bergegas lari menghampiri. Dia tahu, keluarga Nasrallah berada di dalamnya. Dia hadang buldoser itu selayak Polantas menghentikan mobil di jalan raya! Aksi ini biasa dilakukan aktivis ISM sebelumnya.
Buldoser Israel tak berhenti. Aktivis-aktivis ISM lain menjerit histeris melambai-melambaikan tangan. Mereka ketakutan. Raungan buldoser menindih semua suara. Melihat D-9R semakin bergairah menyeruduk, Rachel berupaya memanjat gundukan tanah yang dikeruk pisau buldoser agar tak tertelan. Posisi Rachel di atas gundukan itu cukup tinggi, pasti tentara IDF yang mengoperasikan kendaraan baja itu melihatnya. Tapi serdadu itu tetap tancap gas. Rachel terbanting kemudian terseret pisau Bulldozer. D9R terus melaju. Rantai-rantai baja bergemeretak melindas Rachel, kemudian mundur. Tersisa tubuh hancur Sang gadis Olympia.
Teman-teman Rachel bergegas menghampiri. Rachel masih hidup kala itu. Dia sempat berkata, “Sepertinya punggungku remuk.’’ Tak lama ambulan Palestina datang. Saat itu dipastikan tiada harapan hidup bagi Rachel. Gadis berambut pirang itu dinyatakan meninggal beberapa saat setelah tiba di rumah sakit lokal.
Sayang, Rachel Corrie berada di pihak yang “salah.” Dia mati dilindas buldoser Israel. Karena alasan itulah pemerintahnya (Amerika Serikat) mendiamkan dan menghentikan kasusnya.
Rachel Corrie, abadilah namamu sebagai pejuang kemanusiaan. Engkaulah energi hidup yang menghidupkan.
Suaranya benar-benar dinilai seperti suara malaikat. Setidaknya itulah yang dikatakan Piers Morgan, salah satu penyiar saluran televisi CNN, saat mewawancarai beberapa waktu lalu. Yuk, kita intip siapa sih sebenarnya Jackie Evancho. Jadi Idola karena … Suaranya yang merdu bervibra, membuat banyak orang enggak percaya kalau suara tersebut berasal dari mulut dan tenggorokan anak perempuan berusia 12 tahun! “Suara aku berasal dari Tuhan,” kata Jackie. “Kalaupun bukan dari Tuhan, pastinya itu warisan dari keluargaku yang sangat mendukung aku.” Suaranya tersebut baru muncul ke permukaan pas ulang tahunnya yang ke-8 diadakan. Itu gara-gara DVD sandiwara musikal The Phantom of the Opera. Dari situ, Jackie kerap bernyanyi di rumah sehingga sang ibu pun membelikan DVD tersebut untuknya. Serunya, Idollovers, kedua ortunya baru ngeh bakat suaranya sewaktu Jackie ikut dalam kompetisi nyanyi. Kontes vokal lokal, Kean Idol, jadi saksi kalau Jackie memang memiliki suara yang istimewa. Meski cuma memegang posisi kedua, Jackie justru mulai mendapat kekuatan untuk mengikuti kompetisi-kompetisi selanjutnya. Dari situ performa Jackie banyak diundang ke event-event tertentu sampai akhirnya ia merekam suaranya di situs YouTube.
Kelebihannya pada … Suara, tentu. Selain suara Jackie memiliki semangat yang konstan. Kamu bisa lihat itu dari bagaimana matanya berbinar-binar saat diajak ngobrol dan pas dia tampil menyanyikan sebuah nomor lagu! Meski masih sangat muda untuk ukuran jenis musik pop-klasik, Jackie justru sudah memantapkan dirinya di dunia nyanyi.
Keunikan sosoknya ada di … Mini album, Prelude to a Dream, yang hebatnya diisi dengan lagu pop klasik dari Andrea Bocelli, Con te partiro dan The Prayer, lalu lagu Josh Groban, To Where You Are dan lagu klasik, Amazing Grace. Album ini sukses di tangga lagu Billboard Classical Albums Chart dan menjadi barang antik karena produksinya dihentikan kedua ortu Jackie di September 2010 dan dilelang di eBay dengan harga 1,500 dolar! Enggak heran produser musik terkenal, David Foster, menanggapnya tampil dalam semifinal acara Hitman Talent Search Contest dan langsung mempersilakan diri Jackie menyanyi di konser David Foster & Friends!
Pilihan hidupnya ada pada … Menyanyi! Ya, meski baru-baru ini Jackie terlibat dalam pembuatan film The Company You Keep bersama aktor senior, Robert Redford, Jackie tetap memilih menyanyi adalah pilihannya yang utama. “Akting lebih mudah daripada menyanyi karena enggak harus pakai otot tenggorokan. Jadi saya lebih suka menyanyi,” jelas Jackie. Pas disinggung kalau dirinya suatu saat akan menjadi diva Jackie bilang,” … aku sebisa mungkin untuk menjaga diriku untuk enggak menjadi sombong.” Wah, manisnya …